RSS

Looper

16 Jan

looper

Di kesempatan kali ini saya ingin membahas tentang sebuah film tentang time travel. Judulnya “Looper”. Film yang di bintangi oleh Bruce Willis, Joseph Gordon Levitt, dan Emily Blunt. Riasan yang di pakai oleh Joe muda (Joseph) di buat mirip dengan Joe tua (Bruce W) dan sekilas Joseph berbeda di bagian alis dan bibir. Mungkin agar transisi lebih smooth ke Joe tua di cerita ini. Tapi bagi yang sudah menonton beberapa filmnya Joseph, pasti tetap akan terlihat berbeda dengan Bruce W (ya iyalah).Bersetting di tahun 2044, tempat dan penampakan kota tidak terlalu futuristik dan “clean”. Masih tetap seperti tengah kota yang kumuh atau pedesaan dengan persawahan jagung. Yang berbeda hanyalah kendaraan yang mulai menggunakan panel solar. Mungkin imajinasi sang sutradara di buat realistik aja, di mana global warming sudah mulai mendunia dan atau bahan bakar fossil sudah punah jadi mereka beralih ke sumber di tenaga lain.

Joe muda yang menjadi pembunuh bayaran yang di sewa dari taipan mafia dari masa depan, yang mana kala itu untuk pembuangan mayat di masa depan adalah ilegal. Maka dari itu sang korban di kirim ke masa lalu yang mana pembuangan mayat lebih mudah. Time travel di masa depan juga di anggap pelanggaran hukum berat, makanya mesinnya hanya di miliki oleh bos mafia tersebut (the one and only). Pembunuh bayaran inilah yang di sebut looper. Seperti biasa, film dengan tipe seperti ini selalu membuat penonton memutar otak atau mengimplementasikan teori ruang dan waktu yang sampai saat ini masih hanyalah sebuah teori. Selalu twisted plot, tapi film ini lebih dari itu, yang mana saat Joe muda terjatuh dari apartemennya dan film beralih lagi saat kesalahan eksekusinya yang berujung perburuan dengan “panitia disiplin” dari mafia masa depan yang di kirim ke masa lalu. Nah, di sini perulangan waktu di sini tidak berujung ke perburuan atau kegagalan eksekusinya, tetapi keberhasilan eksekusi tersebut. Dia menjadi tua dan berkeluarga, namun setelah 30 tahun dia akhirnya di eksekusi. Di kirim ke masa lalu, namun dia berhasil melakukan perlawanan dan akhirnya dia mengirim dirinya sendiri ke masa lalu dan memburu bos mafia tersebut yang di kenal sebagai Rainmaker. Nah di sinilah twisted plot tersebut terjadi. Kalau time travel, apakah paradox saat Joe tua kembali dan menggagalkan eksekusi atas dirinya, berarti memori atau pernikahan dia kemungkinan tidak akan terjadi atau menuju ke alur cerita yang lain. Ini bisa saja merujuk bukan ke time travel, tapi lebih kepada teori multiverse. Di mana Joe di semesta ini jadi eksekutor dan di semesta lain bisa saja menjadi seorang petani.

Tidak hanya 1 twisted plot yang terjadi di sini, ada juga kemungkinan Joe adalah si Cid yang tidak lain adalah Rainmaker di masa depan. Cluenya adalah saat seorang stripper yang juga adalah pacar dari Joe muda saat tidur dengan Joe. Joe bercerita kalau ibunya dulu suka membelai rambutnya dan stripper ini membelai Joe seperti ibunya supaya menghibur Joe yang kehilangan sahabatnya. Saat Cid cilik sedang tertidur, dia juga di belai oleh Emily Blunt saat ending dan kalau di teliti lagi warna rambut Joe dan Cid ternyata memiliki warna yang sama. Hal ini menjadi faktor pendukung lagi kalau ini adalah multiverse. Namun kalau balik lagi ke time travel, hal tersebut hanyalah sebuah kebetulan atau emang sutradaranya yang sengaja membuat kontroversi ini. Who knows…

Di samping ruwetnya jalan cerita, akting dari beberapa tokoh utama dan pendukungnya cukup bagus. Sang veteran Bruce Willis memang sudah tidak diragukan lagi, Joseph yang menurut saya total dalam berperan, Emily Blunt yang sudah (bisa) hilang aksen britishnya (di film The Devil Wears Prada terlihat sekali logat britishnya), dan juara akting di sini adalah Cid cilik. Tapi perannya sebagai anak kecil yang kondisi jiwanya tidak stabil karena tragedi yang di alami sebelumnya membuat saya berdecak kagum. Mungkin ini aktor masa depan dan semoga tidak disoriented seperti Mckullay Culkin yang terjebak narkoba. Tapi selain faktor yang saya sebutkan di atas, film ini kurang begitu greget. Film ini recommended deh buat yang movie freak. Oh ya, omong-omong soal movie freak, saat saya bercerita tentang keruwetan film ini, dia berkomentar “ngapain mikirin film sampe segitunya”. Well, it’s just a matter of a hobby yang dimana dia mungkin ga bisa respect dengan itu. Laki-laki memang tidak bisa di pisahkan dengan hobi…

 
Leave a comment

Posted by on January 16, 2013 in Movie Review

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: