RSS

Pintu Yang Tertutup Di Hari Raya

31 Aug

Ga nyangka pengen menulis ini kemaren. Ide yang timbul saat beberapa saat sebelum buka puasa ramadhan di hari terakhir. Hari raya yang akan terjadi besoknya akan sama seperti sebelumnya, cuma ada ibu dan anaknya (kalau tahun lalu ada kakak saya yang mudik), tanpa kehadiran seorang pemimpin keluarga. Sudah berapa lebaran saya sudah tidak bertemu dengan beliau. Bukan karena beliau sudah meninggal, tapi karena meninggalkan keluarganya. Sebuah kapal tanpa kapten, hanya ada kepala kru dan 2 awak kapal yang berlayar di derasnya ombak kehidupan.

Sebuah peristiwa yang bermula dari sebelum ujian akhir SMP, berkat bantuan saya yang lagi seru mainan hape ayah karena saya belum punya hape waktu itu. Ada sms masuk yang seakan-akan dari seorang istri yang sudah punya beberapa anak kepada suaminya. Saya tunjukkan ke ibu saya, dan ibu saya mengkonfirmasinya. Cek cok pun di mulai, karena ayah saya kesal karena rahasianya terbongkar, sampai mengatakan beberapa kata-kata kasar ke ibu saya. Saya hanya bisa diam, tak tahu apa yang sedang terjadi. Maklum, saya belum pernah mengalami pertengkaran sehebat itu dan saya adalah orang yang polos. Terjadi di malam hari, ibu saya hanya bisa menangis di sebelah saya di tempat tidur. Setelah sebelumnya duduk dan di maki-maki. Ya, waktu itu ibuku tidur di sebelah saya. Meninggalkan ayah yang tak pernah tidur kalau di malam hari, bermain PS. Pagi hari, saya mendengar suara ribut seperti suara toples besar plastik yang di banting. Ternyata itu ayah saya, lalu saat saya membuka mata, hanya melihat bayangannya yang langsung menghilang di daun pintu dan toples plastik tadi tergeletak tak berdaya. Beberapa kali di banting dan di tendang itu yang di ceritakan ibu saya tak lama setelah kejadian itu. Menurut ibu, itu adalah pelampiasan kekesalannya, untuk waktu itu ada saya karena kalau tidak bisa KDRT sama seperti sebelumnya. Itu adalah pengakuan dari Ibu saya. Sempet shock, karena ternyata di keluarga saya pernah mengalami KDRT yang hanya saya lihat di sinetron (ibu saya penggemar sinetron). Entah kenapa, tapi sekilas ayah saya sangat sayang kepada saya karena tidak sampai KDRT dengan Ibu saya. Hal ini berbeda dulu saat saya belum lahir dan kakak saya yang juga masih berusia lebih muda dari saat yang sama dengan saya. Kakak sampai di tampar karena membela Ibu saya, Alhamdulillah kejadian itu tidak terulang lagi.

Ibu tidak bisa memendam kesedihannya, tapi melihat saya yang masih belia untuk mengerti hal orang dewasa dan tuan rumah kontrakan yang agak resek menambah penderitaan beliau. Tapi sekarang saya baru sadar, ada kekuatan yang membuat Ibu saya tetap optimis dan kuat menjalaninya. Saya baru dengar langsung dari beliau beberapa waktu yang lalu kalau itu saya. Saya lah yang membuat Ibu tabah dan kuat, kalau tidak ada saya mungkin ibuku bisa gila, itu adalah pengakuan beliau. Karena bukan hanya tahunan ibuku di buat menderita, tapi belasan tahun ibuku tetap memaafkan kelakuan ayah saya demi seorang anak. Sebelumnya demi kakak saya, lalu sekarang saya sendiri. Tapi entah kenapa kejadian ini lain, tapi mungkin karena sudah ketahuan 2 kali jadi ayah saya lebih malu dari sebelumnya. Ibu saya pernah di pukuli hingga lebam di muka, lupa saya di bagian mana pas itu Ibu cerita, sampai-sampai ibu saya ga berani keluar karena malu dengan tetangga. Waktu itu ibu mau kabur dari rumah dan ketahuan. Akhirnya berakhir buruk dan baju-baju hasil kemas-kemas tadi di buang oleh ayah saya di kebun sebelah rumah (kebunnya terpisah oleh tembok 2 meter). Sekali lagi kejadian ini terjadi di saat saya belum lahir. Saat mengandung saya pun ibu juga berjuang. Akhirnya bisa kabur ke Jakarta (karena saudara Ibu di sana adalah yang paling sukses waktu itu), dengan membohongi kakak saya karena tidak tega kakak saya sampai tahu ibu mau kabur dari rumah. Dengan menyuruh membeli sesuatu, ibu saya berhasil menipu kakak saya yang waktu itu masih duduk di bangku SMP. Berangkat ke stasiun dengan perut membuncit besar. Sampai tiba di Jakarta, ibu saya yang kesusahan pun akhirnya anjlok dari pintu gerbong yang tinggi itu ke tanah berbatu. Alhamdulillah waktu itu kandungannya kuat, tidak keguguran. Karena merasa di tipu, kakak saya langsung menggadaikan sprei dan hasilnya di buat ongkos kereta ke Jakarta. Uang yang hanya cukup untuk sekali tiket, tanpa uang lebih untuk jajan apalagi makan, dan masih mengenakan seragam sekolah. Beruntung di kereta kakak di kasih makanan oleh penumpang lain karena kasihan melihat kakak saya memakai seragam dengan menuju ke jakarta. Sesampainya di stasiun, kakak lalu naik bajaj dan menuju ke Kampung Rambutan, karena ga hafal alamat tapi hanya hafal jalan dari terminal Kampung Rambutan, akhirnya kakak sampai ke rumah bude saya, ongkos bajaj pun di bayar oleh bude saya. Itu terjadi saat mengandung dengan usia kandungan yang cukup tua.

Setelah saya lahir, ternyata dulu saya berbagi tempat dengan sejenis tumor atau kista, saya sendiri juga masih belum mengetahuinya sampai sekarang. Sebuah bongkahan daging hidup seukuran buah kelapa. Itulah yang menjelaskan kenapa Ibu saya selalu kesakitan yang dahsyat saat mens dan kandungan yang lumayan besar untuk anak kembar. Karena belum ada USG, jadi tidak bisa terdeteksi penyakit ini. Balik lagi ke masa depan, saya akhirnya lulus dengan nilai membanggakan dan masuk ke SMK negeri di Surabaya. Dapat usulan dari Jakarta untuk masuk ke SMK karena di sana saya dapat belajar keterampilan yang berguna untuk langsung terjun ke dunia kerja setelah lulus. Daftar ke sekolah pun di temani oleh tuan rumah kontrakan yang bisa mengendarai sepeda motor untuk mengantarkan saya. Saat MOS, saya memakai motor ayah saya untuk berangkat. Di hari kedua nasib kurang baik menimpa saya, karena berangkatnya yang sangat pagi, saya agak lengah karena barang bawaan yang banyak. Tidak tahu kalau ada trotoar setinggi 30cm di depan, karena kecepatan tinggi, saya tidak sempet mengelak. Motor saya bagian depan rusak parah, tidak bisa di tuntun, apalagi di kendarai. Badan saya terlempar hingga ke tengah jalan dengan berguling-guling. Beruntung lalu lintas pagi itu tidak terlalu ramai, sehingga saya tidak di sambut olah kendaraan lain. Tiba-tiba saya terlentang dan banyak orang yang berkerumun. Saya akhirnya di angkat ke pinggir jalan, yang saya rasakan hanya sakit di bagian perut dan saya tidak mampu duduk ataupun berdiri karena rasa sakit di perut tadi. Saya menyuruh teman saya berangkat daripada dia telat, sambil merintih saya juga menjawab beberapa pertanyaan dari orang-orang tadi. Seorang polisi juga ada di TKP waktu itu, tanya nomer telepon yang bisa di hubungi. Saya memberikan nomer hape Ibu saya, yang langsung secepat mungkin menuju ke TKP di antar juga oleh tuan rumah. Di sana, saya akhirnya di rawat di Rumah Sakit Brawijaya selama 2 malam. Saat ayah saya di telp, beliau bilang kalau masih di luar kota ada kerjaan. Bahkan sampai pulang dan beberapa hari pun ayah saya tidak pulang juga untuk menengok anaknya ini. Kata bang Haji, sungguh terlalu🙂

Sebelumnya ayah cuma 3 kali pulang, tapi setelah itu sudah tidak pernah lagi pulang ke rumah. Hanya saya yang susah payah dan tekun meminta gaji ayah dengan datang ke kantornya tiap bulan. Peristiwa itu tidaklah sampai terjadi kalau ayah saya pulang dan mengantarkan sendiri gajinya itu. Ibu saya yang tidak mampu bekerja lagi dan saya yang masih sekolah dan butuh biaya. Tapi kian lama ayah saya makin menjengkelkan. Kewajibannya itu makin lama makin susah di mintai. Karena sekolah saya yang waktu itu butuh komputer karena saya masuk di jurusan Teknik Komputer dan Jaringan. Ayah saya hanya menjawab dengan asal, “gurunya udah gila kali ya, masa baru masuk sekolah udah di mintai komputer”. Itu juga karena ayah sama sekali tidak tahu proses saya lulus SMP, cari sekolah, masuk jurusan mana. Cuma taunya saya sekolah di sekolah “perempuan”. Karena dulunya sekolah ini adalah SMEA dan jurusan TKJ adalah jurusan baru dan saya adalah angkatan pertama. Ayah saya juga tidak tahu kalau saya dapat peringkat 2 nilai UNAS di SMP dan peringkat pertama di SMK saat penerimaan siswa baru. Sudah tak ada hal bagus lagi dari anaknya ini karena beliau sudah di tutupi oleh pikiran buruk karena saya lebih memilih membela ibu saya daripada ayah. Yah, itu adalah naluri anak kecil yang tau mana yang benar dan mana yang salah. Pernah juga sekali saya meminta uang karena udah tanggal 7 (biasanya tanggal segitu gajiannya), saya sampe mengatakan “kalau sekarang belum di kasih, mau makan apa pak nanti?” dan beliau hanya menjawab “makan aja tuh pasir dan batu” dengan emosi. Hmm, sebenarnya udah males seh minta-minta terus tiap bulan, tapi mau gimana lagi. Status perkawinan masih sah karena belum ada kata cerai dan saya juga masih sekolah. Tapi Ibu tetap membujuk saya untuk rajin memintanya tiap bulan, meski kadang-kadang tiap bulan kurang dari 600, bahkan pernah beberapa kali cuma 300 karena orderan sepi.

Alhamdulillah lulus SMK 3 tahun, langsung cari pekerjaan walau hanya bermodalkan surat keterangan nilai UNAS saya melamar di SPBU sebagai operator. Sebelumnya juga sempat mengurus SIM A karena siapa tau ada pekerjaan menjadi supir. Saya masih inget ada teman yang mentertawakan saya saat saya tidak menutup kemungkinan pekerjaan itu. Tapi itu tidaklah buruk daripada seorang anak yang putus sekolah. Semua berkat bantuan dari Jakarta tiap bulan, karena hanya mengandalkan gaji dari dari seorang ayah yang hanya segitu. Saya akhirnya punya hutang yang cukup banyak dengan saudara saya yang sampai sekarang saya masih belum bisa mencicilnya. Karena gaji saya pun sudah hanya cukup menghidupi saya dan ibu saya. Tapi sekali lagi itu tidaklah cukup buruk daripada putus sekolah. Kerja hanya 3 bulan di SPBU dan pindah ke salah satu ISP di Surabaya. Di sinilah saya belajar banyak, ilmu jaringan dan ilmu kehidupan. Yang akhirnya membawa ke tempat kerja baru ini yang dengan bayaran yang lebih baik dan suasana baru. Ibu pun semakin membaik, badan yang bertambah gemuk dan muka yang lebih berseri. Tidak seperti dulu, yang agak kurusan dan terlihat lebih tua. Memang benar, kecantikan berasal dari hati. Kalau hati bahagia, maka aura yang terpancar pun demikian, padahal Ibu ga pernah pake kosmetik. Hanya bedak tipis, itupun kalau mau bepergian atau kondangan.

Hubungan saya dengan ayah saya mungkin lebih baik dari kakak saya. Karena kakak saya lebih berani menentang daripada saya, ayah saya kesal dan keluar statement kalau “kau bukanlah anakku lagi”. Kakak hanya dingin menanggapinya karena sebelumnya kakak sudah tidak respect lagi terhadap ayah. Yaa, bagaimanapun saya masih bisa mengatakan saya masih punya ayah, tapi sampai sekarang saya tidak tahu bagaimana kabar beliau. Masih hidup, sehat, atau sedang berada dimana? Ibu saya pernah bertanya kepada saya, “kalau ayahmu tiba-tiba pulang nanti dan meminta maaf ke semua, apa tindakanmu?”. Pertanyaan yang bagus, karena waktu itu saya masih belum tau mau jawab apa. “Karena nanti biasanya setelah tua saja baru inget dengan keluarganya, setelah tidak ada lagi perempuan / orang yang mengurusnya”, lanjut Ibu. Ibu sudah berjanji tidak akan memaafkan ayah, begitupun dengan kakak. Lalu, bagaimana dengan saya? Setelah saya sadar seiring bertambahnya usia, kalau saya terjebak di kondisi seperti ini. Beberapa keinginan dan mimpi yang tidak bisa saya raih karena kondisi. Saya akhirnya memutuskan untuk TIDAK akan memaafkan ayah saya. Semua ini gara-gara ayah. Sehingga saya menanggung beban yang saya sendiri sebelumnya belum siap. Seandainya nanti beliau pulang, saya tidak akan mau tinggal atau mengurusnya, saya akan melarikan diri dengan Ibu saya. Tapi sebelumnya, saya akan meminta permintaan cerai dari beliau, karena secara hukum Ibu masih berstatus menikah. Tapi secara agama, sudah tidak berlaku, karena sudah hampir 5 tahun tidak di nafkahi. Saya akan menyelesaikan urusan yang masih belum selesai lalu saya akan meninggalkannya sama seperti beliau meninggalkan saya saat saya benar-benar membutuhkannya. Biarlah beberapa perempuan yang menurutnya lebih baik dari Ibu saya yang mengurus masa tuanya. Itu hal yang berbeda kalau beliau sudah berada di penghujung usianya. Karena beliau tetaplah ayah saya.

Itu sebagian kisah yang bisa saya kenang dan membuat Idul Fitri tahun ini lebih berarti, selain adanya si “Agen” tentunya🙂. Tulisan ini di buat pada malam takbiran di kantor, start 01:22, finish 2:55. Itulah mengapa pintu saya hanya tertutup di Hari Raya ini. Selamat Hari Raya Idul Fitri, Minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin.

Idul-Fitri

Wassalam

 
Leave a comment

Posted by on August 31, 2011 in Curhat

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: