RSS

Boolean dan kehidupan masyarakat

08 Dec

Jadi inget waktu pertama kali masuk Kuliah D1, ada salah satu dosen paling canggih di sana sedang mengajar di kelas. Waktu itu dia mengajar tentang dasar pemrograman, tentang bab tipe data. Sewaktu menjelaskan di depan, saya perhatikan benar. Maklum, belum bisa pemrograman sama sekali😀. Pertama tentang tipe data integer, float, dst. Sampai pada tipe data boolean, suatu istilah yang tidak pernah terdengar sebelumnya. Dia menambahkan lagi, kalau tipe data boolean itu merupakan tipe data khusus, yang hanya berisi 2 macam, isian. Yaitu, ya atau tidak, benar atau salah, 0 atau 1, yang merupakan ciri khas dari logika. Menurut prinsip dasar algoritma, semua data akan di anggap benar dan akan terus di proses sesuai urutannya sampai akhir dari program tersebut. Hanya dengan operator kondisi maka data tersebut bisa di anggap salah dan benar, atau dalah hal ini fungsi “if”. Hmm, ternyata hal tersebut bisa di kaitkan dengan kehidupan di masyarakat mulai dari zaman manusia pertama sampai sekarang.

Anda tahu apa kaitannya? Semisal data itu adalah masyarakat (manusia) dan operator kondisi itu adalah semacam agama, peraturan, hukum, undang-undang, dsb. Manusia akan menganggap membunuh, mencuri, memperkosa, dsb (dalam hal ini belum ada istilah kriminal) merupakan benar karena belum ada “kondisi” di masyarakat itu. Karena dalam diri mereka hanya ada 1 “kondisi”, yaitu pemikiran mereka sendiri. Jadi apa yang menurut mereka bagus, menyenangkan maka akan mereka nilai benar. Karena adanya peraturan di buat untuk banyak orang maka semuanya terlihat benar dan salah. Pada hakekatnya, semua perbuatan yang merugikan mereka anggap salah, dan sebaliknya. Tapi kembali lagi, semua hal untung rugi, benar dan salah menurut tiap orang itu beda-beda. Apalagi dengan zaman sekarang ini, yang aspeknya makin kompleks. Meski secara kecerdasan kita tidak jauh berbeda dengan orang-orang dahulu.

Pelajaran yang dapat saya ambil dari pemikiran tadi adalah, saling pengertian di antara sesama makhluk hidup. Karena bukan hanya manusia yang punya kehidupan “bergerombol”. Sebagai contoh, semut dan lebah. Hidup berkoloni, dan mempunyai tugas masing-masing sesuai dengan kemampuan mereka. Tapi hanya manusia yang mampu berevolusi sedemikian rupa sehingga mampu mengerjakan beberapa hal sekaligus. Kita lihat aja koloni binatang tersebut, bentuk tubuh mereka memang di desain untuk fungsi mereka di koloni tersebut. Tapi lihatlah manusia, ada yang bekerja di teknik, olahragawan, pemusik, dsb.

“Benar” dan “Salah” adalah suatu polemik abadi. Yang sampai sekarang masih terjadi di sekitar kita, dan pertemuan keduanya salah satunya bisa di tandai dengan debat. Jadi inget juga dengan film “Alangkah Lucunya Negeri Ini”. Saat sang tokoh utama berargumen dengan orang tua mereka tentang cara mereka mencari uang. Memang itu uang haram, hasi dari mencopet, namun tujuan mereka mulia. Di sinilah “benar” dan “salah” bertemu. Kembali ke individu masing-masing untuk menilai hal tersebut.

Jadi, meski kita adalah penjahat paling kejam atau orang religius sekalipun sama seperti hal di atas. Karena kita adalah manusia, bukan malaikat bukan pula iblis. Jadi, anda masih berpikir kalau anda benar? Coba pikirkan sekali lagi

This is just an opinion, actually my humble opinion

 
Leave a comment

Posted by on December 8, 2010 in Curhat, Tulisan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: